Menelusuri Pesona Kotamuntok: Destinasi Tersembunyi di Ujung Sumatera

Pagi itu, saya memutuskan untuk menyusuri jalanan Kotamuntok yang sepi. Kabut tipis masih menyelimuti bangunan-bangunan tua peninggalan Belanda, sementara aroma kopi dari kedai sederhana di sudut jalan menggoda untuk singgah. Sebagai penduduk sini, sya sering lupa bahwa kota kecil ini sebnernya menyimpan segudang cerita untuk para petualang yang ingin keluar dari jalur wisata mainstream.
Pantai-pantai Perawan yang Tak Banyak Diketahui
Siapa sangka, di balik kesibukan tambang timah, Kotamuntok punya garis pantai yang memesonah. Pantai Batu Bedaun, misalnya, hanya berjarak 15 menit dari pusat kota. Saya suka duduk di batu karang raksasa sini sambil menunggu matahari terbenam. Pasir putihnya halus, dan air lautnya jernih seperti kaca. Yang unik, batu-batu di sini seolagh bertumpuk alami membentuk "daun" raksasa. Tak ada tiket masuk, hanya warung sederhana yang menjual kelapa muda dan gorengan ikan hasil tangkapan pagi.
Jika ingin yang lebih sepi, Pantai Tanjung Kelian di ujung timur kota patut dicoba. Di sini, saya pernah bertemu nelayan lokal yang dgn bangga bercerita tentang tradisi "mapak tambang" (menyambut kapal) yang masih dilestarikan.
Jejak Sejarah yang Masih Bernapas
Kotamuntok adalah saksi bisu kejayaan timah Bangka Belitung. Sya sering mengajak teman-teman backpacker ke Museum Timah Kotamuntok, bekas rumah administrasi kolonial yang diubah jadi ruang pamer. Tak perlu bayar mahal, cukup Rp5.000 untuk melihat koleksi peralatan tambang kuno dan foto-foto hitam putih era 1920-an.
Jangan lewatkan juga Kelenteng Kong Fuk Miau di Jalan Pemuda. Bangunan berusia 150 tahun ini masih aktif digunakan. Saya terkesiap pertama kali melihat ornamen naga dari porselen yang menyala saat Imlek.
Kuliner Jalanan yang Menggugah
Wisata tak lengkap tanpa mencicipi makanan lokal. Warung Padang Sederhana di dekat pelabuhan selalu jadi tujuan saya untuk sarapan. Gulai tunjangnya (kikil sapi) lembut dan kuahnya kaya rempah. Harganya? Cuma Rp15.000 per porsi.
Untuk camilan, cobalah kue bangka di Pasar Lama. Saya suka versi panggangnya yang renyah, dgn isian kelapa parut dan gula merah. Pedagangnya biasanya mulai berjualan pukul 3 sore.

Kotamuntok mungkin tak secantik destinasi wisata populer di Bangka Belitung, tapi justru di situlah daya tariknya. Tak ada kerumunan turis, tak ada harga yang dibengkakkan. Hanya cerita-cerita sederhana yang menunggu untuk ditemukan, seperti sore itu ketika saya duduk di dermaga tua, mendengar dentang lonceng kapal kayu yang perlahan menjauh.
(Sumber referensi: Profil Wisata Bangka Belitung)